Puncak Merapi Alami Gempa Lokal

0
229

prioritas.co.id .Yogyakarta – Dilansir dari beritasatu.com – Status Gunung Merapi masih berada di level II (Waspada), meskipun demikian, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melarang aktivitas termasuk masyarakat yang masih mengandalkan wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III sebagai lokasi mata pencarian.

Berdasarkan data BPPTKG, Senin (11/2) periode 00.00-06.00 WIB, terjadi guguran 12 kali dengan durasi 12-48 detik, dan pada 12 jam sebelumnya, terpantau guguran lava pijar sebanyak empat kali dengan jarak luncur 500-700 meter ke arah tenggara atau hulu Kali Gendol.

Pada 7 Februari 2019 pukul 00.00-24.00 WIB telah terjadi guguran sebanyak 136 kali dan satu kali guguran awan panas pada gunung tersebut, dengan status Waspada level II.

Sedang pada Sabtu, (9/2) periode 00.00 hingga 24.00 WIB, BPPTKG mencatat enam kali guguran lava pijar dengan variasi jarak berkisar 150 hingga 1.300 meter, berdurasi 13 – 130,2 detik.

Sementara untuk aktivitas kegempaan, gunung teraktif di Indonesia ini tercatat mengalami gempa guguran sebanyak 31 kali dengan amplitudo 2-48 mm berdurasi 12.6-130.2 detik.

Merapi juga mengeluarkan gempa embusan sebanyak tiga kali dengan amplitudo 2-12 mm, durasi 11.7-24.1 detik. Gempa Hybrid (Multifase) terjadi enam kali dengan amplitudo 3-26 mm, S-P 0,4-0,8 detik, durasi 10-18,6 detik.

Gempa tektonik lokal juga terdeteksi sebanyak satu kali beramplitudo 2 mm, S-P 2,4 detik, Durasi 31.6 detik.

Pengendali Lahar

Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) Yogyakarta, memperkiraan potensi sedimen yang akan mengalir di Kali Gendol sekitar 2,1 juta meter kubuk.

“Jika tidak terjadi erupsi, material ini tidak turun sekaligus, namun sedikit-sedikit, paling banyak dalam 0,5 juta meter kubik dalam satu tahun pertama pascaerupsi. Jadi Kali Gendol masih aman karena total kapasitas tampung lebih besar dari yang akan mengalir sekitar 0,5 juta meter kubik,” ungkap PLH Kepala BBWSO, Pramono.

Sungai-sungai yang berhulu Gunung Merapi masih membutuhkan setidaknya 109 dam sabo.

Saat ini di kaki Merapi, terdapat 251 sabo dam yang berfungsi mengendalikan banjir lahar. Ratusan sabo itu berada di 15 sungai di DIY maupun Jawa Tengah, dengan total daya tampung seluruhnya sekitar 12,3 juta meter kubik.

Khusus Kali Gendol, sudah dibangun 20 dam sabo dengan total kapasitas tampung saat ini sekitar 1,1 juta meter kubik, dan ada satu sabo yang masih tertimbun material erupsi 2010. Selain itu, ada tiga dam sabo yang rusak tetapi masih berfungsi untuk menampung material.

“Ketiga dam sabo ini sedang diperbaiki dan direncanakan selesai tahun ini. Kami pastikan, Kali Gendol relatif siap menghadapi erupsi yang akan datang,” kata dia.

Dikatakan, kebutuhan sekitar 109 dam sabo lagi di wilayah Merapi belum bisa terpenuhi, karena biaya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here